ORANG-ORANG MELAYU DI MAKASSAR
Pada
kira-kira pertengahan abad ke-16 (ada yang menyebutkan pada tahun 1521 dan ada
yang menyebutkan pada tahun 1561), sewaktu I Manriwagauq DaEng Bonto KaraEng
Lakiung (nama matinya: Tunippalanggaulaweng) menjadi raja di Gowa, datanglah di
Makasar seorang pedagang yang berasal dari tanah Melayu (Sumatra) yang bernama
Nakhoda Bonang yang meminta kepada baginda raja sebidang tanah untuk
ditempatinya.
Baginda
raja berkenan memberikan tanah kepada Nakhoda Bonang dengan perjanjian sebagai
berikut:
- Orang-orang
Gowa tidak boleh memasuki tempat itu.
- Orang-orang
Gowa tidak boleh masuk ke rumah tempat tinggal orang Melayu.
- Orang-orang
Gowa tidak boleh membagi anak dari orang Melayu.
- Orang-orang
Gowa tidak boleh merampas harta benda orang- orang Melayu, jika orang-orang
Melayu berbuat sesuatu kesalahan.
Perjanjian
tersebut yang merupakan suatu "exterritorialiteit" diterima baik oleh
kedua belah pihak. Demikianlah maka tinggalah di Makasar orang-orang Melayu
yang berasal dari Patani, Cimpoh, Johor, Pahang dan Minangkabau, berkampung di
tempat yang telah diberikan raja kepada mereka itu.
Beberapa
puluh tahun kemudian, pada akhir abad ke-16, setelah tiga raja berturut-turut
memerintah di Gowa, yaitu masing- masing Tajibarani DaEng Marompa KaraEng Data
Tunibatta, I Manggorai DaEng Mammeta KaraEng Bontolangkasa Tunijalloq, dan I
Tepu KaraEng DaEng Parabbung Tunipasuluq, datanglah tiga orang Ulama Besar dari
Koto-Tengah (Minangkabau) ke Makasar untuk menyebarkan agama Islam di Sulawesi
Selatan. Mereka itu ialah :
- Abdullah
Ma'mur Khatib Tunggal (kemudian lazim disebut Datoq Bandang).
- Datuk
Sulaiman (kemudian lazim disebut Datoq Pattimang).
- Khatib
Bungsu (kemudian lazim disebut Datoq Tiro).
Yang
menjadi raja di Gowa pada waktu itu, ialah I Mangarangi DaEng Manrabia dan yang
menjadi raja di Talloq dan Mangkubumi di Gowa ialah I Mallingkaang DaEng
Nyonri.
Mulai
tanggal 22 September 1605 kedua raja tersebut bersama rakyatnya (orang-orang
Makasar) diislamkan oleh Datuq Bandang. Sejak waktu itulah maka Gowa dan Tallo
menjadi Negara Islam. Raja Gowa diberi gelaran Arab Sultan Alauddin (setelah
wafat disebut TumEnanga ri Gaukanna), dan Raja Tallo digelar Sultan Abdullah
Awalul Islam (setelah wafat disebut TumEnanga ri Agamana).
Kemudian,
kedua raja tersebut menggiatkan penyebaran dan pengislaman ke tanah Bugis.
Raja-raja di Ajatapparang (Sidenreng, Sawitto, Suppa dan lain-lain.), Soppeng
bersama rakyatnya mulai memeluk agama Islam dalam tahun 1609, raja- raja dan
rakyat Wajo dalam tahun 1610 dan raja-raja bersama rakyat Bone dalam tahun
1611. Raja-raja dan rakyat Luwu mulai masuk Islam pada tahun 1605, bersamaan
dengan Gowa-Tallo. Yang memasukkan agama Islam di Luwu ialah Datoq Pattimang.
Raja Luwu yang mula-mula memeluk agama Islam ialah La Pattiwareq DaEng
Parabbung dengan gelaran Sultan Muhammad Wali Muzhahiruddin (nama matinya :
MatinroE ri Ware). Datoq Pattimang juga yang mengislamkan orang Wajo dalam
tahun 1610.
Kemudian
dalam tahun 1632, datang pula seorang Melayu yang bernama Datuk Maharaja Lela,
membawa kemenakannya suami-istri, yang laki-laki bernama Paduka Raja dan yang
perempuan bernama Putera Sinapati, serta membawa bendera kerajaan yang dinamai
Buluh Parindu. Adapun Datuk Maharaja Lela itu adalah paman dari Raja Patani dan
Puteri Sinapati saudara dari Raja Patani. Mereka meninggalkan negerinya karena
terjadinya perselisihan dengan Raja Patani. Datuk Maharaja Lela itulah yang
kemudian dipilih oleh orang-orang Melayu menjadi kepalanya.
Kemudian,
sewaktu berkobar peperangan dalam tahun 1667 antara Raja Gowa Sultan Hasanuddin
dengan Kompeni Belanda di bawah pimpinan Speelman yang dibantu oleh La
Tenritata Towapatunru Arung Palakka, orang-orang Melayu membantu Raja Gowa.
Oleh karena mungkin sekali dari pihak pemerintah kerajaan Gowa tidak begitu
menaruh kepercayaan kepada orang-orang Melayu, maka Mangkubumi Kerajaan Gowa
yang bernama KaraEng Karunrung (nama matinya : TumEnanga ri Ujungtana) memberi
nasihat kepada orang Melayu, supaya mereka itu tidak campur tangan dalam
peperangan itu. Oleh sebab itu maka orang-orang Melayu meninggalkan Makasar dan
Sulawesi Selatan, ada Bima, Sumbawa, Banjarmasin, Kutai dan pulau-pulau dekat
Kalimantan, ke Kaili dan lain-lain.
Setelah
peperangan tersebut berakhir dengan penanda- tanganan perjanjian perdamaian di
Bungaya pada tanggal 18 Nopember 1667, maka Laksamana Speelman memanggil
kembali orang-orang Melayu tersebut. Demikianlah maka dalam waktu yang tidak
lama, orang-orang Melayu kembali ke Makasar. Speelman menempatkan mereka di
Ujung-Tana di bawah kekuasaan Raja Bone Arung Palakka.
Akan
tetapi tidak lama kemudian, Datuk Maharaja Lela, kepala dari orang-orang
Melayu, meminta kepada kompeni Belanda supaya ia bersama rakyatnya (orang-orang
Melayu) meninggalkan Ujung Tana, karena mereka merasa selalu mengalami
perlakuan yang tidak wajar dari orang-orang Bugis. Oleh sebab itu maka Kompeni
Belanda memindahkan orang-orang Melayu itu ke tempat nlain. Orang-orang Melayu
itu membuka perkampungan setelah mereka menebas hutan yang bernama Bulekang.
Kampung yang baru itu dinamainya Kampung Melayu.
Pada
tanggal 28 Mei 1706 Pemerintah Belanda di Makasar mengangkat IncEq Cukka Abdul
Rasul menjadi kepala atas orang- orang Melayu dengan gelaran Kapitan Melayu.
Dialah Kapitan Melayu yang pertama. Dalam jabatannya itu ia mendapat
penghasilan dari bea pasar ikan yang didirikannya sendiri dan dari pembuatan
surat-surat hak milik (eigendomsbewijzen) untuk penduduknya. Atas izin Raja
Gowa dan Raja Bone, ia mendirikan sebuah mesjid dalam kampungnya.
Kemudian
setelah ia wafat, yang diangkat menjadi Kapitan Melayu ialah sepupu sekalinya
yang bernama IncEq Maulud, yaitu pada tanggal 27 Januari 1724. Empat tahun
kemudian beliau digantikan oleh IncEq Somba sebagai Kapitan Melayu yang ke-3.
Pengangkatannya dalam jabatan itu terjadi pada tanggal 27 Mei 1728. Setelah
IncEq Somba wafat, maka beliau digantikan oleh IncEq Bendak sebagai Kapitan
Melayu yang ke-4, yang diangkat pada tanggal 24 Desember 1733. Beliau adalah
cicit dari Datuk Paduka Raja dan Puteri Sinpati. Setelah I Bendak wafat, maka
beliau digantikan oleh kemenakannya yang bernama IncEq Jamaluddin sebagai
Kapitan Melayu ke-5. Pengangkatannya berlangsung pada tanggal 27 Agustus 1739.
Setelah beliau wafat, beliau digantikan oleh IncEq Abdul Kadir sebagai Kapitan
Melayu yang ke-6. Beliau diangkat pada tanggal 29 Oktober 1747. Beliau adalah
putra dari IncEq Abdul Rahman Datuk Sabutung (putra dari Said Abdul Amir,
peranakan Arab-Melayu dari Bima) dan I Pattimang (puteri dari Arung Bulo-Bulo).
Diriwayatkan,
bahwa sebelum IncEq Abdul Kadir diangkat menjadi Kapitan Melayu ke-6, dalam
bulan Juni 1742 beliau dikirim oleh Gubernur Makasar A.H. Smout ke Jawa untuk
mengikuti Raja TanEtE yang bernama La Tenrioddang Sultan Fachruddin (nama
wafatnya: MatinroE ri musuqna) pergi ke Jawa untuk membantu Kompeni di dalam
peperangannya melawan orang-orang Jawa dan orang-orang Cina yang memberontak
terhadap kekuasaan Belanda di Surakarta, Semarang dan lain-lainnya. IncEq Abdul
Rahman Datuk Sabutung (ayah dari IncE Abdul Kadir) turut serta juga ke Jawa.
Untuk
bantuan itu Raja TanEtE memperoleh hadiah dari Kompeni sebuah sembangan emas
dan IncEq Abdul Rahman Datuk Sabutung memperoleh pulau Sabutung bersama
tempat-tempat di mana terdapat agar-agar di sekitarnya sampai ke sebelah
selatan pulau Kalambing dan ke sebelah utara dari pulau-pulau Salemo dan
Sakuala.
Sekembalinya
I Abdul Kadir dari Jawa barulah beliau diangkat menjadi Kapitan Melayu pada
tanggal 29 Oktober 1747. Dalam bulan Mei 1750 I Abdul Kadir berhenti dengan
hormat dari jabatannya atas permintaannya sendiri. Beliau digantikan oleh IncEq
Bungsu, sepupu sekali dari IncE Bendak almarhum. Pengangkatan IncE Bungsu
sebagai Kapitan Melayu yang ke-7 terjadi pada tanggal 4 Mei 1750. Dalam tahun
1752 IncEq Bungsu dipecat dari jabatannya. Untuk kedua kalinya IncEq Abdul
Kadir diangkat menjadi Kapitan Melayu yang ke-8 dalam tahun itu juga untuk
menggantikan IncEq Bungsu.
Tidak
lama kemudian, IncEq Abdul Kadir mendapat perintah dari Kompeni Belanda
berangkat ke KabaEna untuk menumpas pemberontakan di sana yang dilakukan oleh
seorang peranakan Belanda yang menamai dirinya Prins Frans.
Dalam
waktu singkat IncEq Abdul Kadir berhasil menumpas pemberontakan itu. Si
petualang dibunuh oleh orang-orang Melayu dan kepalanya dibawa ke Makasar.
Untuk jasa itu IncEq Abdul Kadir memperoleh sebuah sembangan emas selaku hadiah
dari Kompeni.
Pada
tanggal 9 Maret 1789 IncEq Sulaiman diangkat menjadi Kapitan Melayu ke-9,
sedangkan IncEq Abdul Kadir diangkat menjadi Majoor Melayu.
Setelah
IncEq Sulaiman wafat, maka yang menggantikan beliau ialah IncEq Muhammad Hasan
(Letnan Melayu). Beliau diangkat dalam bulan Agustus 1813, yaitu pada masa
pemerintahan Inggris di Makasar. Setelah IncEq Muhammad Hasan wafat maka IncEq
Abdul Gani (Letnan Melayu) diangkat pada tahun 1824 menjadi Kapitan Melayu.
Yang diangkat menjadi Letnan Melayu ialah IncEq Abdullah Husain. Setelah IncEq
Abdul Gani wafat, maka beliau digantikan oleh sepupunya, yaitu Letnan IncEq
Abdullah Husain sebagai Kapitan Melayu yang ke-12 (Juli 1839). IncEq Abdullah
Husain wafat dalam tahun 1880. Beliau digantikan oleh IncEq Abdul Rahman
sebagai Kapitan Melayu yang ke-13. Beliau dipecat dari jabatannya dalam tahun
1888. Dalam tahun itu juga beliau digantikan oleh IncEq Lele Ali Asdullah
sebagai Kapitan Melayu ke-14. Dalam bulan Mei 1906 IncE Lele Ali Asdullah
berhenti dengan hormat dari jabatannya dengan berhak mendapat pensiun.
Beliau
digantikan oleh sepupu sekalinya yang bernama IncEq Abdul Wahab DaEng Massikki
sebagai Kapitan Melayu yang ke-15. Dalam tahun itu juga beliau berhenti dari
jabatannya karena diangkat menjadi Jaksa Landraad di Maros. Yang diangkat
menjadi Kapitan Melayu untuk sementara waktu ialah Mas Nur Alim DaEng Marewa,
putra dari Jaksa Landraad di Maros Sastrawiguna. Empat tahun lamanya beliau
memangku jabatan Kapitan Melayu, lalu beliau diangkat menjadi Inlandsch
Assistant di distrik Makasar (lazim disebut Kapitan Makasar).
Jabatan
Kapitan Melayu dijalankan sementara waktu oleh Kapitan Endeh yang bernama
Muhammad Amin DaEng Masarro, lamanya dua tahun. Dalam bulan Juni 1912
diangkatlah Haji IncEq wan Abdullah Bausandi menjadi Kapitan Melayu ke-17. Lima
tahun lamanya beliau dalam jabatan itu, lalu berhenti. Pada tanggal 25 Pebruari
1918 Kamaruddin DaEng Parani (Orang Bugis) diangkat menjadi Kapitan Melayu
ke-18, sebagai pengganti dari Haji IncEq Wan Abdullah Bausandi. Dalam tahun
1921 Kamaruddin DaEng Parani diberhentikan selaku Kapitan Melayu dan beliau
diangkat menjadi Ajun Jaksa di Takalar. Semenjak saat itu jabatan Kapitan
Melayu tidak diisi lagi. Beliaulah Kapitan Melayu yang terakhir.
Kampung
(Kapitanschap) Melayu digabungkan masuk ke dalam distrik Wajo, begitupun
kampung (kapitanschap) Endeh. Akhirnya dalam kota Makasar hanya terbagi dalam
empat distrik, yaitu: Distrik Makasar, Distrik Wajo, Distrik Ujung Tanah dan
distrik Mariso.
Adapun
orang-orang Melayu yang semenjak abad ke-16 datang ke Sulawesi Selatan, telah
berkembang dan beranak-pinak di daerah Sulawesi Selatan dan Tenggara. Mereka
melakukan hubungan kawin-mawin dan telah melebur ke dalam masyarakat
Bugis-Makasar.
Antara
bangsawan Melayu dengan bangsawan Bugis-Makasar terjadi hubungan kawin-mawin.
Sejumlah besar contoh yang dapat dikemukakan, antara lain:
- Datu
Soppeng yang ke-17 yang bernama La Tenrisengeq To Esa MatinroE ri
Salassaqna memperistrikan IncEq Amina, putri dari IncEq Husain Datuk Jurutulis.
Dari perkawinan itu lahir seorang putra yang bernama IncEq Camummu. Putra
ini kemudian menjadi Sulle Datu di Soppeng, semasa Raja Bone La Patau
MatinroE ri Nagauleng merangkap kedatuan di Soppeng (kira-kira tahun
1700).
- Datu Mario
ri Wawo yang bernama La Mauraga DaEng Malliungang Sultan Adam MatinroE ri
Juppandang memperistrikan IncEq Puteri Johar Manikam, puteri dari IncEq
Ali Asdullah Datuk Pabean dan IncEq Ratna Kasing (putri dari Kapitan
Melayu IncEq Bendak). Dari perkawinan itu lahir tiga orang putri dan
seorang putra. Ketiga putri itu ialah: Colliq PakuE Sitti Fatimah DaEng
Parappe, Sitti Hatijah DaEng Marennu, dan Sitti Hawang DaEng Nipati. Yang
laki-laki ialah Abdul Wahab Mattotorang Pageq DaEng Mamangung (kemudian
setelah beliau wafat, disebut MatinroE ri Lalengtedong ri Maros).
Colliq
PakuE DaEng Parappe dipermaisurikan oleh Dulung Lamuru dan Datu Tanete La
Rumpang Sultan Abdul Rahman (Matinro ri Muttiara). Dari perkawinan itu lahir
seorang putri yang bernama Colliq PujiE Arung Pancana (terkenal dahulu sebagai
ahli sastra Bugis). Suaminya ialah To Appotase Arung Ujung. Merekalah yang
melahirkan: We Tenri OIIE Datu TanEtE, I Gading Arung Atakka dan La Makka Arung
Ujung.
La
Mattotorang Page DaEng Mamangung mempunyai pengaruh yang sangat besar di
daerah-daerah sebelah utara Makasar (Noorderdistricten), seperti Segeri,
Mandalle, PangkajEnnEq, Laut, Maros dan lain-lain. Beliau mempunyai banyak
istri, ada bangsawan dan ada yang bukan bangsawan. Beberapa putranya menjadi
regent (KaraEng) di daerah-daerah Noorderdistricten, seperti: La Pappe DaEng
Massikki menjadi regent PangkajEnnEq, La Wewang DaEng Pasompa menjadi regent
Laut, Manyanderi DaEng Paranreng menjadi regent Marusuq (hanya sebentar) dan
Mallewai DaEng Manimbangi menjadi regent MandallE.
La
Mattotorang DaEng Mamangung juga pernah menjadi pejabat sementara regent
Segeri. Beliau seorang Sastrawan Bugis, yang pernah menulis sebuah buku syair
(toloq) yang meriwayatkan peperangan tahun 1825 antara Belanda dengan Raja Bone
yang bernama WE Manneng Arung Data MatinroE ri Kessi.
Di
antara orang-orang Melayu keturunan Datuk Paduka Raja itu banyak yang dahulu
menduduki posisi yang baik, menjadi pegawai negeri sebagai Inlandsch Assisten,
Jaksa dan lain-lain. Bahkan pada waktu belakangan ini ada beberapa di antaranya
yang menjadi pegawai tinggi, seperti Residen IncEq Ahmad Saleh DaEng Tompo,
Residen IncEq Naeni, akting Wali-Kota IncEq Kaimuddin. Tak lupa pula disebutkan
nama IncEq Nuruddin DaEng Magassing, pensiunan Leeraar Bahasa Bugis-Makasar
pada Osvia (Sekolah Pamongpraja) dan menjadi Penasihat Gubernur di bidang adat-
istiadat di Makasar. Setelah beliau berhenti dengan hormat dari jabatannya
dengan mendapat hak pensiun, beliau tidak tinggal diam akan tetap menyumbangkan
tenaga dan pikiran kepada Matthes- Stichting (sekarang Yayasan Kebudayaan
Sulawesi Selatan dan Tenggara) untuk menggali kebudayaan daerah Sulawesi
Selatan dan Tenggara. Beliau adalah pembantu utama dari Prof. Dr. Cense yang
memimpin yayasan tersebut. Beliau wafat di Makasar bulan Desember 1943 dalam
usia 73 tahun dengan meninggalkan banyak jasa dibidang kebudayaan Sulawesi
Selatan dan Tenggara.
Sumber : Bingkisan Patunru : Sejarah Lokal Sulawesi Selatan oleh Abdurrazak Daeng Patunru.
Komentar