ORANG-ORANG MELAYU DI MAKASSAR

ORANG-ORANG MELAYU DI MAKASSAR

03 June 2023

7580 VIEWS

Pada kira-kira pertengahan abad ke-16 (ada yang menyebutkan pada tahun 1521 dan ada yang menyebutkan pada tahun 1561), sewaktu I Manriwagauq DaEng Bonto KaraEng Lakiung (nama matinya: Tunippalanggaulaweng) menjadi raja di Gowa, datanglah di Makasar seorang pedagang yang berasal dari tanah Melayu (Sumatra) yang bernama Nakhoda Bonang yang meminta kepada baginda raja sebidang tanah untuk ditempatinya.

 

Baginda raja berkenan memberikan tanah kepada Nakhoda Bonang dengan perjanjian sebagai berikut:

 

  1. Orang-orang Gowa tidak boleh memasuki tempat itu.
  2. Orang-orang Gowa tidak boleh masuk ke rumah tempat tinggal orang Melayu.
  3. Orang-orang Gowa tidak boleh membagi anak dari orang Melayu.
  4. Orang-orang Gowa tidak boleh merampas harta benda orang- orang Melayu, jika orang-orang Melayu berbuat sesuatu kesalahan.

Perjanjian tersebut yang merupakan suatu "exterritorialiteit" diterima baik oleh kedua belah pihak. Demikianlah maka tinggalah di Makasar orang-orang Melayu yang berasal dari Patani, Cimpoh, Johor, Pahang dan Minangkabau, berkampung di tempat yang telah diberikan raja kepada mereka itu.

Beberapa puluh tahun kemudian, pada akhir abad ke-16, setelah tiga raja berturut-turut memerintah di Gowa, yaitu masing- masing Tajibarani DaEng Marompa KaraEng Data Tunibatta, I Manggorai DaEng Mammeta KaraEng Bontolangkasa Tunijalloq, dan I Tepu KaraEng DaEng Parabbung Tunipasuluq, datanglah tiga orang Ulama Besar dari Koto-Tengah (Minangkabau) ke Makasar untuk menyebarkan agama Islam di Sulawesi Selatan. Mereka itu ialah :

  1. Abdullah Ma'mur Khatib Tunggal (kemudian lazim disebut Datoq Bandang).
  2. Datuk Sulaiman (kemudian lazim disebut Datoq Pattimang).
  3. Khatib Bungsu (kemudian lazim disebut Datoq Tiro).

Yang menjadi raja di Gowa pada waktu itu, ialah I Mangarangi DaEng Manrabia dan yang menjadi raja di Talloq dan Mangkubumi di Gowa ialah I Mallingkaang DaEng Nyonri.

Mulai tanggal 22 September 1605 kedua raja tersebut bersama rakyatnya (orang-orang Makasar) diislamkan oleh Datuq Bandang. Sejak waktu itulah maka Gowa dan Tallo menjadi Negara Islam. Raja Gowa diberi gelaran Arab Sultan Alauddin (setelah wafat disebut TumEnanga ri Gaukanna), dan Raja Tallo digelar Sultan Abdullah Awalul Islam (setelah wafat disebut TumEnanga ri Agamana).

Kemudian, kedua raja tersebut menggiatkan penyebaran dan pengislaman ke tanah Bugis. Raja-raja di Ajatapparang (Sidenreng, Sawitto, Suppa dan lain-lain.), Soppeng bersama rakyatnya mulai memeluk agama Islam dalam tahun 1609, raja- raja dan rakyat Wajo dalam tahun 1610 dan raja-raja bersama rakyat Bone dalam tahun 1611. Raja-raja dan rakyat Luwu mulai masuk Islam pada tahun 1605, bersamaan dengan Gowa-Tallo. Yang memasukkan agama Islam di Luwu ialah Datoq Pattimang. Raja Luwu yang mula-mula memeluk agama Islam ialah La Pattiwareq DaEng Parabbung dengan gelaran Sultan Muhammad Wali Muzhahiruddin (nama matinya : MatinroE ri Ware). Datoq Pattimang juga yang mengislamkan orang Wajo dalam tahun 1610.

Kemudian dalam tahun 1632, datang pula seorang Melayu yang bernama Datuk Maharaja Lela, membawa kemenakannya suami-istri, yang laki-laki bernama Paduka Raja dan yang perempuan bernama Putera Sinapati, serta membawa bendera kerajaan yang dinamai Buluh Parindu. Adapun Datuk Maharaja Lela itu adalah paman dari Raja Patani dan Puteri Sinapati saudara dari Raja Patani. Mereka meninggalkan negerinya karena terjadinya perselisihan dengan Raja Patani. Datuk Maharaja Lela itulah yang kemudian dipilih oleh orang-orang Melayu menjadi kepalanya.

Kemudian, sewaktu berkobar peperangan dalam tahun 1667 antara Raja Gowa Sultan Hasanuddin dengan Kompeni Belanda di bawah pimpinan Speelman yang dibantu oleh La Tenritata Towapatunru Arung Palakka, orang-orang Melayu membantu Raja Gowa. Oleh karena mungkin sekali dari pihak pemerintah kerajaan Gowa tidak begitu menaruh kepercayaan kepada orang-orang Melayu, maka Mangkubumi Kerajaan Gowa yang bernama KaraEng Karunrung (nama matinya : TumEnanga ri Ujungtana) memberi nasihat kepada orang Melayu, supaya mereka itu tidak campur tangan dalam peperangan itu. Oleh sebab itu maka orang-orang Melayu meninggalkan Makasar dan Sulawesi Selatan, ada Bima, Sumbawa, Banjarmasin, Kutai dan pulau-pulau dekat Kalimantan, ke Kaili dan lain-lain.

Setelah peperangan tersebut berakhir dengan penanda- tanganan perjanjian perdamaian di Bungaya pada tanggal 18 Nopember 1667, maka Laksamana Speelman memanggil kembali orang-orang Melayu tersebut. Demikianlah maka dalam waktu yang tidak lama, orang-orang Melayu kembali ke Makasar. Speelman menempatkan mereka di Ujung-Tana di bawah kekuasaan Raja Bone Arung Palakka.

Akan tetapi tidak lama kemudian, Datuk Maharaja Lela, kepala dari orang-orang Melayu, meminta kepada kompeni Belanda supaya ia bersama rakyatnya (orang-orang Melayu) meninggalkan Ujung Tana, karena mereka merasa selalu mengalami perlakuan yang tidak wajar dari orang-orang Bugis. Oleh sebab itu maka Kompeni Belanda memindahkan orang-orang Melayu itu ke tempat nlain. Orang-orang Melayu itu membuka perkampungan setelah mereka menebas hutan yang bernama Bulekang. Kampung yang baru itu dinamainya Kampung Melayu.

Pada tanggal 28 Mei 1706 Pemerintah Belanda di Makasar mengangkat IncEq Cukka Abdul Rasul menjadi kepala atas orang- orang Melayu dengan gelaran Kapitan Melayu. Dialah Kapitan Melayu yang pertama. Dalam jabatannya itu ia mendapat penghasilan dari bea pasar ikan yang didirikannya sendiri dan dari pembuatan surat-surat hak milik (eigendomsbewijzen) untuk penduduknya. Atas izin Raja Gowa dan Raja Bone, ia mendirikan sebuah mesjid dalam kampungnya.

Kemudian setelah ia wafat, yang diangkat menjadi Kapitan Melayu ialah sepupu sekalinya yang bernama IncEq Maulud, yaitu pada tanggal 27 Januari 1724. Empat tahun kemudian beliau digantikan oleh IncEq Somba sebagai Kapitan Melayu yang ke-3. Pengangkatannya dalam jabatan itu terjadi pada tanggal 27 Mei 1728. Setelah IncEq Somba wafat, maka beliau digantikan oleh IncEq Bendak sebagai Kapitan Melayu yang ke-4, yang diangkat pada tanggal 24 Desember 1733. Beliau adalah cicit dari Datuk Paduka Raja dan Puteri Sinpati. Setelah I Bendak wafat, maka beliau digantikan oleh kemenakannya yang bernama IncEq Jamaluddin sebagai Kapitan Melayu ke-5. Pengangkatannya berlangsung pada tanggal 27 Agustus 1739. Setelah beliau wafat, beliau digantikan oleh IncEq Abdul Kadir sebagai Kapitan Melayu yang ke-6. Beliau diangkat pada tanggal 29 Oktober 1747. Beliau adalah putra dari IncEq Abdul Rahman Datuk Sabutung (putra dari Said Abdul Amir, peranakan Arab-Melayu dari Bima) dan I Pattimang (puteri dari Arung Bulo-Bulo).

Diriwayatkan, bahwa sebelum IncEq Abdul Kadir diangkat menjadi Kapitan Melayu ke-6, dalam bulan Juni 1742 beliau dikirim oleh Gubernur Makasar A.H. Smout ke Jawa untuk mengikuti Raja TanEtE yang bernama La Tenrioddang Sultan Fachruddin (nama wafatnya: MatinroE ri musuqna) pergi ke Jawa untuk membantu Kompeni di dalam peperangannya melawan orang-orang Jawa dan orang-orang Cina yang memberontak terhadap kekuasaan Belanda di Surakarta, Semarang dan lain-lainnya. IncEq Abdul Rahman Datuk Sabutung (ayah dari IncE Abdul Kadir) turut serta juga ke Jawa.

Untuk bantuan itu Raja TanEtE memperoleh hadiah dari Kompeni sebuah sembangan emas dan IncEq Abdul Rahman Datuk Sabutung memperoleh pulau Sabutung bersama tempat-tempat di mana terdapat agar-agar di sekitarnya sampai ke sebelah selatan pulau Kalambing dan ke sebelah utara dari pulau-pulau Salemo dan Sakuala.

Sekembalinya I Abdul Kadir dari Jawa barulah beliau diangkat menjadi Kapitan Melayu pada tanggal 29 Oktober 1747. Dalam bulan Mei 1750 I Abdul Kadir berhenti dengan hormat dari jabatannya atas permintaannya sendiri. Beliau digantikan oleh IncEq Bungsu, sepupu sekali dari IncE Bendak almarhum. Pengangkatan IncE Bungsu sebagai Kapitan Melayu yang ke-7 terjadi pada tanggal 4 Mei 1750. Dalam tahun 1752 IncEq Bungsu dipecat dari jabatannya. Untuk kedua kalinya IncEq Abdul Kadir diangkat menjadi Kapitan Melayu yang ke-8 dalam tahun itu juga untuk menggantikan IncEq Bungsu.

Tidak lama kemudian, IncEq Abdul Kadir mendapat perintah dari Kompeni Belanda berangkat ke KabaEna untuk menumpas pemberontakan di sana yang dilakukan oleh seorang peranakan Belanda yang menamai dirinya Prins Frans.

Dalam waktu singkat IncEq Abdul Kadir berhasil menumpas pemberontakan itu. Si petualang dibunuh oleh orang-orang Melayu dan kepalanya dibawa ke Makasar. Untuk jasa itu IncEq Abdul Kadir memperoleh sebuah sembangan emas selaku hadiah dari Kompeni.

Pada tanggal 9 Maret 1789 IncEq Sulaiman diangkat menjadi Kapitan Melayu ke-9, sedangkan IncEq Abdul Kadir diangkat menjadi Majoor Melayu.

Setelah IncEq Sulaiman wafat, maka yang menggantikan beliau ialah IncEq Muhammad Hasan (Letnan Melayu). Beliau diangkat dalam bulan Agustus 1813, yaitu pada masa pemerintahan Inggris di Makasar. Setelah IncEq Muhammad Hasan wafat maka IncEq Abdul Gani (Letnan Melayu) diangkat pada tahun 1824 menjadi Kapitan Melayu. Yang diangkat menjadi Letnan Melayu ialah IncEq Abdullah Husain. Setelah IncEq Abdul Gani wafat, maka beliau digantikan oleh sepupunya, yaitu Letnan IncEq Abdullah Husain sebagai Kapitan Melayu yang ke-12 (Juli 1839). IncEq Abdullah Husain wafat dalam tahun 1880. Beliau digantikan oleh IncEq Abdul Rahman sebagai Kapitan Melayu yang ke-13. Beliau dipecat dari jabatannya dalam tahun 1888. Dalam tahun itu juga beliau digantikan oleh IncEq Lele Ali Asdullah sebagai Kapitan Melayu ke-14. Dalam bulan Mei 1906 IncE Lele Ali Asdullah berhenti dengan hormat dari jabatannya dengan berhak mendapat pensiun.

Beliau digantikan oleh sepupu sekalinya yang bernama IncEq Abdul Wahab DaEng Massikki sebagai Kapitan Melayu yang ke-15. Dalam tahun itu juga beliau berhenti dari jabatannya karena diangkat menjadi Jaksa Landraad di Maros. Yang diangkat menjadi Kapitan Melayu untuk sementara waktu ialah Mas Nur Alim DaEng Marewa, putra dari Jaksa Landraad di Maros Sastrawiguna. Empat tahun lamanya beliau memangku jabatan Kapitan Melayu, lalu beliau diangkat menjadi Inlandsch Assistant di distrik Makasar (lazim disebut Kapitan Makasar).

Jabatan Kapitan Melayu dijalankan sementara waktu oleh Kapitan Endeh yang bernama Muhammad Amin DaEng Masarro, lamanya dua tahun. Dalam bulan Juni 1912 diangkatlah Haji IncEq wan Abdullah Bausandi menjadi Kapitan Melayu ke-17. Lima tahun lamanya beliau dalam jabatan itu, lalu berhenti. Pada tanggal 25 Pebruari 1918 Kamaruddin DaEng Parani (Orang Bugis) diangkat menjadi Kapitan Melayu ke-18, sebagai pengganti dari Haji IncEq Wan Abdullah Bausandi. Dalam tahun 1921 Kamaruddin DaEng Parani diberhentikan selaku Kapitan Melayu dan beliau diangkat menjadi Ajun Jaksa di Takalar. Semenjak saat itu jabatan Kapitan Melayu tidak diisi lagi. Beliaulah Kapitan Melayu yang terakhir.

Kampung (Kapitanschap) Melayu digabungkan masuk ke dalam distrik Wajo, begitupun kampung (kapitanschap) Endeh. Akhirnya dalam kota Makasar hanya terbagi dalam empat distrik, yaitu: Distrik Makasar, Distrik Wajo, Distrik Ujung Tanah dan distrik Mariso.

Adapun orang-orang Melayu yang semenjak abad ke-16 datang ke Sulawesi Selatan, telah berkembang dan beranak-pinak di daerah Sulawesi Selatan dan Tenggara. Mereka melakukan hubungan kawin-mawin dan telah melebur ke dalam masyarakat Bugis-Makasar.

Antara bangsawan Melayu dengan bangsawan Bugis-Makasar terjadi hubungan kawin-mawin. Sejumlah besar contoh yang dapat dikemukakan, antara lain:

  1. Datu Soppeng yang ke-17 yang bernama La Tenrisengeq To Esa MatinroE ri Salassaqna memperistrikan IncEq Amina, putri dari IncEq Husain Datuk Jurutulis. Dari perkawinan itu lahir seorang putra yang bernama IncEq Camummu. Putra ini kemudian menjadi Sulle Datu di Soppeng, semasa Raja Bone La Patau MatinroE ri Nagauleng merangkap kedatuan di Soppeng (kira-kira tahun 1700).
  2. Datu Mario ri Wawo yang bernama La Mauraga DaEng Malliungang Sultan Adam MatinroE ri Juppandang memperistrikan IncEq Puteri Johar Manikam, puteri dari IncEq Ali Asdullah Datuk Pabean dan IncEq Ratna Kasing (putri dari Kapitan Melayu IncEq Bendak). Dari perkawinan itu lahir tiga orang putri dan seorang putra. Ketiga putri itu ialah: Colliq PakuE Sitti Fatimah DaEng Parappe, Sitti Hatijah DaEng Marennu, dan Sitti Hawang DaEng Nipati. Yang laki-laki ialah Abdul Wahab Mattotorang Pageq DaEng Mamangung (kemudian setelah beliau wafat, disebut MatinroE ri Lalengtedong ri Maros).

Colliq PakuE DaEng Parappe dipermaisurikan oleh Dulung Lamuru dan Datu Tanete La Rumpang Sultan Abdul Rahman (Matinro ri Muttiara). Dari perkawinan itu lahir seorang putri yang bernama Colliq PujiE Arung Pancana (terkenal dahulu sebagai ahli sastra Bugis). Suaminya ialah To Appotase Arung Ujung. Merekalah yang melahirkan: We Tenri OIIE Datu TanEtE, I Gading Arung Atakka dan La Makka Arung Ujung.

La Mattotorang Page DaEng Mamangung mempunyai pengaruh yang sangat besar di daerah-daerah sebelah utara Makasar (Noorderdistricten), seperti Segeri, Mandalle, PangkajEnnEq, Laut, Maros dan lain-lain. Beliau mempunyai banyak istri, ada bangsawan dan ada yang bukan bangsawan. Beberapa putranya menjadi regent (KaraEng) di daerah-daerah Noorderdistricten, seperti: La Pappe DaEng Massikki menjadi regent PangkajEnnEq, La Wewang DaEng Pasompa menjadi regent Laut, Manyanderi DaEng Paranreng menjadi regent Marusuq (hanya sebentar) dan Mallewai DaEng Manimbangi menjadi regent MandallE.

La Mattotorang DaEng Mamangung juga pernah menjadi pejabat sementara regent Segeri. Beliau seorang Sastrawan Bugis, yang pernah menulis sebuah buku syair (toloq) yang meriwayatkan peperangan tahun 1825 antara Belanda dengan Raja Bone yang bernama WE Manneng Arung Data MatinroE ri Kessi.

Di antara orang-orang Melayu keturunan Datuk Paduka Raja itu banyak yang dahulu menduduki posisi yang baik, menjadi pegawai negeri sebagai Inlandsch Assisten, Jaksa dan lain-lain. Bahkan pada waktu belakangan ini ada beberapa di antaranya yang menjadi pegawai tinggi, seperti Residen IncEq Ahmad Saleh DaEng Tompo, Residen IncEq Naeni, akting Wali-Kota IncEq Kaimuddin. Tak lupa pula disebutkan nama IncEq Nuruddin DaEng Magassing, pensiunan Leeraar Bahasa Bugis-Makasar pada Osvia (Sekolah Pamongpraja) dan menjadi Penasihat Gubernur di bidang adat- istiadat di Makasar. Setelah beliau berhenti dengan hormat dari jabatannya dengan mendapat hak pensiun, beliau tidak tinggal diam akan tetap menyumbangkan tenaga dan pikiran kepada Matthes- Stichting (sekarang Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan dan Tenggara) untuk menggali kebudayaan daerah Sulawesi Selatan dan Tenggara. Beliau adalah pembantu utama dari Prof. Dr. Cense yang memimpin yayasan tersebut. Beliau wafat di Makasar bulan Desember 1943 dalam usia 73 tahun dengan meninggalkan banyak jasa dibidang kebudayaan Sulawesi Selatan dan Tenggara.

Sumber : Bingkisan Patunru : Sejarah Lokal Sulawesi Selatan oleh Abdurrazak Daeng Patunru.


Komentar